Rabu, 05 Maret 2014

DEMOS

Presiden sekarang bingung dengan apa yang terjadi pada gelaran pemilihan pemimpin langsung di daerah. Kuantitasnya hanya menjabarkan berbagai kekacauan pemerintahan. Entah angka keberapa sudah yang menunjukkan hasil pilkadasung bukan menggelar pemerintahan yang baik, justru sebaliknya mendekam di prodeo dengan jabaran proyek-proyek pembawa mukaddimah pengadilan. Gubernur A tersangkut kasus, bupati B tersangka penyalahgunaan dana, walikota C dicopot jabatannya karena terlibat penggelembungan.

Kemarin lalu semua teriak yang “langsung” yang terbaik, sangat demokratis, karena murni kedaulatan rakyat. Saatnya rakyat turut serta menentukan nasib negaranya, saatnya rakyat berpartisipasi langsung demi kebaikannya, rakyatlah yang tau siapa yang terbaik menjadi pemimpinnya, suara rakyat adalah suara Tuhan. Sekarang, suara rakyat itu cuma suara Tuhan yang sangat sember dan tidak enak  senandungnya di berita-berita politik dalam negeri, dengungnya juga sampai ke luar negeri dan mencatat rekor dari hari ke hari. Entah Tuhan mana yang bersedia suaranya diwakili rakyat yang seperti ini, atau rakyat ini terlalu PeDe mewakili Tuhan bersuara.

T-O-P-E-N-G

Pada zaman Paleolitikum (± 30.000 tahun yang lalu), di dinding gua Trois Freses di sebelah selatan Perancis terdapat lukisan manusia berpakaian kulit binatang dan memakai topeng sedang menari, menyanyi dan memainkan instrumen. Begitulah topeng membersamai manusia, bahkan hingga mati pun topeng sering dibawa.
Tutankhamen sang Fir’aun, yang semasa hidup sibuk membaiat diri sebagai Tuhan, bertopeng ketika masuk liang lahat – mungkin ia masih berusaha mengelabui Tuhan sesungguhnya -. Ia menyembunyikan sesuatu hingga makamnya pun tak dapat disentuh, terpahat kutukan di sana “Kematian akan segera mendatangi yang menyentuh makam Pharaoh”.

Anak Jelaga Universitas

Ini kampus, semua mahasiswa, semua dosen, semua birokrasi intelektual, semua pekerja kebun, semua pembawa betor lima ribu jauh dekat, semua pedagang kaki lima, semua anak jalanan. Semua yang kusebutkan terakhir adalah yang agak istimewa… Ya, semua anak jalanan. Mereka yang berkaki jelaga, berkostum jelaga, bersuara jelaga, beransel jelaga, dan membawa jajanan jelaga.

Mereka berjelaga menyusuri lorong-lorong intelektual. Bagi semua mahasiswa, semua dosen, semua birokrasi intelektual, semua penghuni kebun binatang yang punya sedikit kuasa istimewa piramida di sini, mereka berwajah asimetris abstrak yang acak, makanya sering juga mereka seperti tak tervisualisasi dengan benar. Ada atau tiada semua di kampus sudah terbiasa atau tak sadar ada.

Kadang mereka terlalu compang camping jelaga, ransel mereka kardus jelaga dan botol jelaga, kaki jelaga mereka tidak berdecit saat menciumi batako, almamater mereka warna-warni jelaga.

Runtuhnya Sang Republik

Dimana burung Garuda dan Pancasila? mereka bisu, mereka hanya mythologi dan kata yang menghegemoni. Bohong. Negeri ini dibangun dengan pembangunan palsu, semuanya palsu. Pseudo Culture, Identitas Palsu, Negara Palsu. Chaos, titik. Kita nanti hanya akan bercerita "Dahulu kala Indonesia".

Hatta saja telah berteriak "Hanya ada satu negara yang menjadi negaraku. Ia tumbuh dengan perbuatan dan perbuatan itu perbuatanku." Idih... manusia di negara ini berbuat apa? jawabnya adalah negara. Perbuatan korup; negara korup. Perbuatan palsu; negara palsu.

Dulunya ada Pancasila, katanya paripurna. tapi ia hanyalah kedok di balik kartel politik, tak lebih baik dari kartel narkoba. Busuk. Kemunafikan yang berbau jijik kemudian membusuk.

Garuda gagah berani, siapa bilang? Socrates saja gagal mendefenisikan "keberanian". Cicero katanya berani, alah... dia saja dibuang dari Roma, meski ia satu-satunya bapak Republik dari sipil. dia bilang "Dalam politik tidak ada kemengan kekal. hanya perguliran peristiwa tanpa sesal."

Opera Demonstrasi

Sekelompok orang berjingkat-jingkat sembari berteriak memberi keceman, kain panjang bertuliskan tuntutan digelar lebar. Di depan mereka sekompok manusia pongah berseragam berkecak pinggang lagak hansip hendak mementung maling, tak jarang bogem mentah siap mendarat di wajah para kelompok berjingkat. Penontong terbagi dua, yang satu menonton dari gedung berpendingin yang satu lagi mengupat hina karena hanya dirasa menambah kegaduhan

Derama jalanan yang belakangan sering terlihat, sebuah cara “rocker intelektual” menyanyikan lagu tuntutan yang diciptakan oleh rakyat. Nyanyian ini terkadang sumbang beraroma kemunafikan, terkadang hambar tanpa rasa, namun ia pernah menorehkan sejarahnya bahwa rocker ini punya masa dimana mereka pernah benar menyanyikan nyanyian soal rakyat.

Menanti Kejenuhan Indonesia

Sang demonstran (Soe Hok-Gie) hanya mengerti tentang revolusi, perubahan dan perbaiakan, tanpa pandangan pragmatis, khayalan kekuasaan dan kesenagan pribadi. Dengan nama rakyat memungut jiwa-jiwa yang terserak dalam barisan perjuangan kemerdekaan atas penjajahan bangsa sendiri.

 “Jika rakyat Indonesia terlalu melarat secara natural mereka akan melakukan perlawanan, dan jika hal tersebut terjadi maka chaos lah yang akan terjadi.  maka biarlah mahasiswa yang bergerak karena kita memang diciptakan untuk tahan terhadap tekanan”

Pernyataan ini tercetus pada tahun 1966, dimana gejolak pertikaian para penguasa berdampak pada kebijakan gila, menteri foya-foya, Sang Presiden “meng-import” istri, rakyat dijepit demi reaksi keberpihakan dan kekejaman propaganda.

Drama Ujung Kereta

Aku selalu ada di stasiun yang sama, dengan kreta yang sama di setiap senja jum'at. Mencari, siapa tahu kau ada di salah satu kursi penumpang

Drama ujung kereta di stasiun tugu, kita sajikan dengan mengulum bibir masing-masing hingga dini hari dijemput pagi

Kubawakan sebiji semangka dan pisang, "dari supermarket atau pasar?" tanyamu sambil mengacak rambut belah sampingku yg menjelang gondrong.

Dhzuhur, Ashar, & Magribh kurindukan. Setelah salam terakhir, aku memutar duduk, menghadapmu. "Do'a dulu bang" kau berujar sambil tertunduk.

Menatapmu adalah do'a dan dzikir. puja atas keindahan Tuhan yg tak terpamrih. Magribh telah datang waktu kereta untuk pulang.

Kau titikkan tangis rindu, saat bibir ku belum lepas dari keningmu. "Jum'at aku pulang, jangan khawatir." Kataku sambil mengecup kelopak matamu.

Rindu membuncah, kamis kau menyusulku dengan kereta yg sama, tapi hari itu, hari kamis tanpa jum'at.

Jum'at sore aku menyusulmu ke stasiun kereta. Tapi, dua pria menghantarku ke ruang beku yg bukan stasiun.

Kudapati kau tersenyum, dengan jilbab biru langit. Kukulum bibir mu, kukecup kening dan kelopak matamu, tapi kenapa kau diam.

Kupeluk erat, kubisikkan "di senja jum'at aku akan selalu datang menemuimu dengan kereta yang sama."

Dhzuhur, Ashar, & Magribh kurindukan. Setelah salam terakhir, aku memutar duduk, menghadapmu. Kini kau hanya tersenyum, lalu pulang.